Kebudayaan
Batak
Batak
adalah budaya yang di Indonesia yang dikenal keras dalam cara penyampaian kata.
Bukan suatu kekerasan yang ditanamkan oleh budaya ini, tetapi karena adat/
kebiasaan yang sudah turun temurun melekat dalam kehidupan masyarakat batak. Kebiasaan
yang dilakukan orang – orang batak, kesannya baik dan wajar bagi kalangan batak
sendiri dan sekitarnya.
Suku
– suku dalam adat batak tidak sedikit jumlahnya, ini dikarena suku yang dibawa
oleh para nenek moyang yang merantau ke tempat yang berbeda – beda. Suku batak
terdiri dari beberapa sub batak, suku – suku ini yaitu :
·
Suku Alas
·
Suku Kluet
·
Suku Karo
·
Suku Toba
·
Suku Pakpak
·
Suku Dairi
·
Suku Simalungun
·
Suku Angkola
·
Suku Mandailing
Sub
suku batak ini berdiam seluruh bagian Sumatera yang merupakan suku terbanyak
diikuti oleh masyarakat batak yang tinggal disana. Adat Batak yang kental,
mengajarkan agar selalu sopan santun dalam segala hal dan saling menghargai
yang lebih tua serta kompak dalam hubungan semarga. Dalam hal ini, suku Batak
memiliki falsafah ‘Dalihan Na Tolu’ yang harus dipegang teguh dan
diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Isi ‘Dalihan
Na Tolu’ itu adalah :
1.
Somba Marhula – hula ( hormat pada pihak
keluarga ibu dan istri)
2.
Elek Marboru ( Ramah pada keluarga saudara
perempuan )
3. Manat Mardongan Tubu ( kompak dalam hubungan
semarga ) .
Dalam
adat Batak ada istilah yang disebut Tarombo,
yaitu silsilah turunan marga yang sangat dihargai keberadaannya oleh para
keturunannya. Keturunan marga – marga Batak harus mengetahui silsilah nenek
moyang mereka, untuk suatu pengetahuan dan keakraban yang akan dijalin suatu
saat nanti dengan orang Batak semarga yang ketemu di perantauan, makanya
kebanyakan orang Batak yang berkenalan pertama kali di manapun, mereka akan
menanyakan Silsilah, Marga dan Tarombo satu sama lain. Karena itu dilakukan
untuk menjalin kasih persaudaraan sesama marga dan untuk mengatahui apakah
mereka ‘Mardongan butuha’ satu tubuh
marga atau ‘marhula – hula’ satu
tubuh ( marga ) dengan ibu.
Dalam
adat Batak, banyak istilah nama ‘panggilan’ yang harus digunakan untuk
menghormati nama mereka, walaupun ada yang salah dalam pengucapan panggilan
yang tidak seharusnya, mereka tidak marah tetapi akan memperbaiki dan
menjelaskan, apa yang sebenarnya harus dikatakan.
Cara
duduk yang benarpun akan harus diterapkan dan diketahui oleh para anak dan boru
Batak, karena mereka yang keturunan Batak disebut Anak Ni Raja dan Boru Ni Raja. Seorang Raja
harus sempurna dalam segalanya. Cara duduk dalam adat ini, mencerminkan unsur
kehormatan besar pada pihak tertentu. Terkhusus pada seorang laki – laki yang
merupakan seorang raja, harus menunjukan sikap seolah seperti seorang raja
bersikap sopan dan berwawasan luas.
Masyarakat
Batak bagian Sumatera adalah seorang petani juga peternak. Mereka lebih memilih
untuk memiliki sawah dan ladang, untuk dijadikan lahan pencaharian. Ini
dikarenakan para nenek moyang yang memilki lahan luas pada daerah Sumatera
ketika pada zaman dahulu. Dan setiap mereka keturunan yang berasal dari marga
nenek moyang tersebut, akan di bagikan lahan dengan luas tanah yang sama. Bagian tanah tadi harus
diolah dan tidak boleh dijualnya. Karena tanah itu dipercaya dapat menghidupi
keluarganya sampai terus menerus tidak berkekurangan.
Kayakinan
masyarakat Batak, sebagiannya masih kuat terhadap roh – roh nenek moyang
mereka, yang dipercaya dapat melindungi mereka dalam segala ancaman. Masyarakat
yang masih menerima keberadaan roh ini, adalah masyarakat dari pulau samosir
dan daerah sekitarnya, yang masih sangat kental dalam adat istiadat Batak zaman
kuno.
Batak
di daerah Tobasa ( Toba Samosir ) dikenal memiliki rumah panggung yang
berdiameter luas dan pelindung atas berbentuk seperti perahu. Nama rumah pada
adat Batak disebut Rumah Bolon. Mereka membuat rumah panggung untuk tujuan beternak.
Mereka menempatkan ternaknya dibawah rumah Bolon itu. Rumah ini memiliki
tangga, tangga dalam Rumah Bolon selalu berjumlah ganjil. Dan memiliki pintu
yang pendek, dengan maksud, agar setiap tamu yang masuk harus tunduk. Ini
melambangkan kehormatan pada pemilik rumah.
Bangunan sederhana ini dibuat oleh nenek
moyang mereka dan masih diterapkan pada rumah – rumah di daerah Toba ini. Salah
satu rumah yang popular dalam adat batak, yaitu rumah adat ‘Siwaluh Jabu’. Dalam rumah ini penghuni
nya dapat terdiri dari 8 keluarga semarga Batak. Rumah ini adalah ruangan lepas
yang luas, tanpa butuhpemisah/ penghalang. Namun, tetap ada pembagian ruangan.
Walaupun tanpa memiliki pembatas, tapi itu dibatasi oleh garis – garis istiadat
yang kuat. Ruangan tersebut memiliki nama masing – masing yang sudah ditentukan
oleh adatnya masing – masing juga. Rumah Bolon Batak adalah satu untuk semua.
Dalam
adat Batak diajarkan untuk selalu mendahulukan yang lebih tua dan saling
menghormati serta kompak dalam satu tubuh. Semua orang batak adalah keluarga
yang satu, karena memiliki keterkaitan hubungan dari nenek moyang. Walaupun
seorang dengan yang lain tidak semarga ( satu tubuh ), tapi selalu ada yang
mempersatukan hubungan mereka, seperti hubungan semarga dengan tante dan paman
atau nantulang atau tulang dan lain – lain.
Hal yang seperti inilah yang membuktikan orang – orang Batak bersaudara
dalam budaya marga. Tidak pernah berbeda dan putus, seolah seperti rantai yang
sambung menyambung dan menjadi satu, itu lah adat Batak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar