Sabtu, 21 Januari 2017

Kebudayaan suku Batak

Kebudayaan Batak
Batak adalah budaya yang di Indonesia yang dikenal keras dalam cara penyampaian kata. Bukan suatu kekerasan yang ditanamkan oleh budaya ini, tetapi karena adat/ kebiasaan yang sudah turun temurun melekat dalam kehidupan masyarakat batak. Kebiasaan yang dilakukan orang – orang batak, kesannya baik dan wajar bagi kalangan batak sendiri dan sekitarnya.
Suku – suku dalam adat batak tidak sedikit jumlahnya, ini dikarena suku yang dibawa oleh para nenek moyang yang merantau ke tempat yang berbeda – beda. Suku batak terdiri dari beberapa sub batak, suku – suku ini yaitu :
·         Suku Alas
·         Suku Kluet
·         Suku Karo
·         Suku Toba
·         Suku Pakpak
·         Suku Dairi
·         Suku Simalungun
·         Suku Angkola
·         Suku Mandailing
Sub suku batak ini berdiam seluruh bagian Sumatera yang merupakan suku terbanyak diikuti oleh masyarakat batak yang tinggal disana. Adat Batak yang kental, mengajarkan agar selalu sopan santun dalam segala hal dan saling menghargai yang lebih tua serta kompak dalam hubungan semarga. Dalam hal ini, suku Batak memiliki falsafah ‘Dalihan Na Tolu’ yang harus dipegang teguh dan diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Isi ‘Dalihan Na Tolu’ itu adalah :
1.       Somba Marhula – hula ( hormat pada pihak keluarga ibu dan istri)
2.       Elek Marboru ( Ramah pada keluarga saudara perempuan )
3.       Manat Mardongan Tubu ( kompak dalam hubungan semarga ) .
Dalam adat Batak ada istilah yang disebut Tarombo, yaitu silsilah turunan marga yang sangat dihargai keberadaannya oleh para keturunannya. Keturunan marga – marga Batak harus mengetahui silsilah nenek moyang mereka, untuk suatu pengetahuan dan keakraban yang akan dijalin suatu saat nanti dengan orang Batak semarga yang ketemu di perantauan, makanya kebanyakan orang Batak yang berkenalan pertama kali di manapun, mereka akan menanyakan Silsilah, Marga dan Tarombo satu sama lain. Karena itu dilakukan untuk menjalin kasih persaudaraan sesama marga dan untuk mengatahui apakah mereka ‘Mardongan butuha’ satu tubuh marga atau ‘marhula – hula’ satu tubuh ( marga ) dengan ibu. 
Dalam adat Batak, banyak istilah nama ‘panggilan’ yang harus digunakan untuk menghormati nama mereka, walaupun ada yang salah dalam pengucapan panggilan yang tidak seharusnya, mereka tidak marah tetapi akan memperbaiki dan menjelaskan, apa yang sebenarnya harus dikatakan.
Cara duduk yang benarpun akan harus diterapkan dan diketahui oleh para anak dan boru Batak, karena mereka yang keturunan Batak disebut  Anak Ni Raja dan Boru Ni Raja. Seorang Raja harus sempurna dalam segalanya. Cara duduk dalam adat ini, mencerminkan unsur kehormatan besar pada pihak tertentu. Terkhusus pada seorang laki – laki yang merupakan seorang raja, harus menunjukan sikap seolah seperti seorang raja bersikap sopan dan berwawasan luas.
Masyarakat Batak bagian Sumatera adalah seorang petani juga peternak. Mereka lebih memilih untuk memiliki sawah dan ladang, untuk dijadikan lahan pencaharian. Ini dikarenakan para nenek moyang yang memilki lahan luas pada daerah Sumatera ketika pada zaman dahulu. Dan setiap mereka keturunan yang berasal dari marga nenek moyang tersebut, akan di bagikan lahan dengan  luas tanah yang sama. Bagian tanah tadi harus diolah dan tidak boleh dijualnya. Karena tanah itu dipercaya dapat menghidupi keluarganya sampai terus menerus tidak berkekurangan.
Kayakinan masyarakat Batak, sebagiannya masih kuat terhadap roh – roh nenek moyang mereka, yang dipercaya dapat melindungi mereka dalam segala ancaman. Masyarakat yang masih menerima keberadaan roh ini, adalah masyarakat dari pulau samosir dan daerah sekitarnya, yang masih sangat kental dalam adat istiadat Batak zaman kuno.

Batak di daerah Tobasa ( Toba Samosir ) dikenal memiliki rumah panggung yang berdiameter luas dan pelindung atas berbentuk seperti perahu. Nama rumah pada adat Batak disebut Rumah Bolon. Mereka membuat rumah panggung untuk tujuan beternak. Mereka menempatkan ternaknya dibawah rumah Bolon itu. Rumah ini memiliki tangga, tangga dalam Rumah Bolon selalu berjumlah ganjil. Dan memiliki pintu yang pendek, dengan maksud, agar setiap tamu yang masuk harus tunduk. Ini melambangkan kehormatan pada pemilik rumah.
 Bangunan sederhana ini dibuat oleh nenek moyang mereka dan masih diterapkan pada rumah – rumah di daerah Toba ini. Salah satu rumah yang popular dalam adat batak, yaitu rumah adat ‘Siwaluh Jabu’. Dalam rumah ini penghuni nya dapat terdiri dari 8 keluarga semarga Batak. Rumah ini adalah ruangan lepas yang luas, tanpa butuhpemisah/ penghalang. Namun, tetap ada pembagian ruangan. Walaupun tanpa memiliki pembatas, tapi itu dibatasi oleh garis – garis istiadat yang kuat. Ruangan tersebut memiliki nama masing – masing yang sudah ditentukan oleh adatnya masing – masing juga. Rumah Bolon Batak adalah satu untuk semua.
Dalam adat Batak diajarkan untuk selalu mendahulukan yang lebih tua dan saling menghormati serta kompak dalam satu tubuh. Semua orang batak adalah keluarga yang satu, karena memiliki keterkaitan hubungan dari nenek moyang. Walaupun seorang dengan yang lain tidak semarga ( satu tubuh ), tapi selalu ada yang mempersatukan hubungan mereka, seperti hubungan semarga dengan tante dan paman atau nantulang atau tulang dan lain – lain.  Hal yang seperti inilah yang membuktikan orang – orang Batak bersaudara dalam budaya marga. Tidak pernah berbeda dan putus, seolah seperti rantai yang sambung menyambung dan menjadi satu, itu lah adat Batak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar